Tuesday, May 14, 2013

My First Book, Galau Orang Ketiga

Akhirnya setelah bertahun-tahun pengen punya buku sendiri terkabul juga. Ini semua berkat nulisbuku.com. Sebagai sebuah perusahaan jasa layanan penerbitan yang membantu mewujudkan impuan semua orang menerbitkan buku secara gratis dan mudah, memang sangat membantu orang-orang seperti saya. Ya, orang-orang yang berkeinginan mempunyai buku sendiri tapi kalah oleh rasa minder dan pesimis. Jadi rasanya sebuah anugerah kalau bukunya bisa menembus penerbit besar kemudian bukunya dipampang di berbagai toko buku.

Tapi, dengan adanya nulisbuku.com sekarang itu sudah sangat membantu orang-orang seperti kami. Ada kebanggan tersendiri ketika akhirnya saya memiliki buku, meskipun hanya bisa dibeli di online. Seperti yang nulisbuku.com katakan, "Kami percaya setiap orang mempunyai impian, salah satunya adalah impian untuk memiliki sebuah buku yang ditulis sendiri."

Berawal dari sanalah, saya mulai kembali semangat merapikan tulisan-tulisan saya yang terbengkalai untuk kemudian dikirimkan ke nulisbuku.com. Apalagi saat buku pertama saya yang berjudul Galau Orang Ketiga telah terbit dan muncil di nulisbuku.com, rasanya senang bukan main. Akhirnya, saya punya buku sendiri. Inilah yang menyemangati saya untuk terus berkarya.

Nah, ngomong-ngomong soal buku Galau Orang Ketiga, ide saya membuat buku ini awalnya dari curhatan temen-temen. Ada yang curhat sambil nangis-nangis gara-gara pacarnya selingkuh terus baru ketauannya beberapa bulan kemudian. Ada juga yang curhat karena galau harus memilih pacarnya atau selingkuhannya. Dan yang lebih bikin saya geleng-geleng kepalanya lagi, bahkan ada yang curhat karena dialah yang jadi orang ketiga itu, gimana merasa bersalahnya dia ganggu hubungan orang lain tapi dianya juga suka sama si pacarnya itu. Emang ya kalau udah soal cinta itu ribet, hehe.

Jadi orang ketiga disalahin terus, diselingkuhin kagak enak, selingkuh juga dilema harus milih yang mana soalnya ke si A sayang, ke si B juga sayang. Ujung-ujungnya serba salah, galau, enggak karuan. Buat lebih jelasnya, bisa beli bukunya atau liat donwload lima halaman awalnya di sini: nulisbuku.com - Galau Orang Ketiga. Selamat membaca!

Nah, ini nih penampakan dari Galau Orang Ketiga :D


me and my first book


Buku Galau Orang Ketiga



Thursday, October 25, 2012

This Is My Choice

"Kerja dimana sekarang? Bagian apa?"
Inilah pertanyaan membosankan yang selalu saya dengar saat baru lulus kuliah dan jika sedang berkunjung ke kampus untuk mengurus hal-hal yang tertunda. Bukan bosan karena pertanyaannya, lebih tepatnya saya bosan mendengar tanggapan orang-orang ketika saya menjawabnya. Banyak yang memberikan tanggapan positif atas pekerjaan saya saat itu, tapi tak sedikit juga yang mencibir dan meremehkan pekerjaan saya.

"Lho kok lulusan Ilmu Komputer malah jadi jurnalis?"
"Sayang dong ilmu waktu kuliahnya ga kepake,"
"Padahal kan kalau IT gajinya bisa lebih besar,"
"Hah jurnalis?" *lalu memandang sinis*

Dan masih banyak lagi tanggapan-tanggapan lainnya yang lebih pedas dan nyelekit hehe. Terus kalau saya saat ini bekerja di suatu perusahaan dengan posisi yang tidak sesuai dengan jurusan saya waktu kuliah adalah perbuatan dosa? Saya pikir, setiap orang bebas memilih perjalanan hidupnya karena setiap orang memiliki peta hidupnya masing-masing. Satu hal lagi, yang namanya sukses bukan hanya sekadar mendapatkan gaji yang besar, meskipun ada yang mengatakan "Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang". Sukses bagi setiap orang itu berbeda, kawan.

Kesuksesan tidak harus melulu indentik dengan harta yang berlimpah karena pada hakikatnya arti sukses sendiri adalah berhasil. Bisa lulus kuliah aja udah sukses, karena sudah berhasil melewati pra sidang dan sidang. Punya sepeda juga udah sukses bagi mereka yang mendambakan memiliki sepeda, tandanya mereka berhasil menyisihkan uangnya buat beli sepeda atau ia berhasil mendapatkannya dari hasil undian. Yang pasti, setiap orang pasti sukses :)


Oh ya, ada satu tanggapan dari seseorang yang sangat terpatri dalam benak saya, kata-katanya sungguh membuat saya naik darah saat itu, untung saja ga meletus kaya gunung merapi. Mendengar perkataanya, saya hanya bisa menanggapinya dengan senyuman karena saya menghormati beliau. Dari kejadian itu saya hanya ingin sharing buat teman-teman yang baru saja lulus dan mendapatkan gelar dari jurusannya masing-masing. Kejarlah mimpi kalian sesuai hati kalian tanpa perlu takut karena tidak sesuai dengan jurusan yang kalian ambil saat kuliah.

Bukan berarti bekerja di posisi yang berbelok dengan jurusan kuliah itu tidak mencintai jurusan yang ditinggalkan atau tidak dipakai lagi ilmunya, tetapi kita berhak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang kita cita-citakan. Yang kalian jalani adalah yang kalian pilih, dan yang kalian pilih adalah ketetapan dari Tuhan. Sampai saat ini saya masih bekerja disana, meskipun sudah banyak orang menanggapinya negatif. This is my choice, dan saya senang menjalaninya karena itu impian saya :)


Monday, October 1, 2012

*Curcol* Alon Alon Asal Kelakon

Sibuk? Ga ada waktu? Alasan yang seharusnya tidak terlontar dari pikiran ini untuk menulis. Sehari itu terdiri dari 24 jam, 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk keperluan lainnya, dan 8 jam untuk istirahat alias tidur. Tapi selalu saja ada alasan waktu 24 jam itu tidak pernah cukup. Why? Karena terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia, terlalu banyak waktu yang dipakai untuk bermalas-malasan, terlalu banyak waktu mencari alasan untuk tidak beraktifitas dan lebih memilih menunggu injury time.

Namun, semuanya tak bisa dipungkiri, setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk membagi waktunya. Tak semua orang harus seragam dalam membagi waktunya dan tak semua orang harus membagi waktu 24 jam menjadi 8 jam, 8 jam, 8 jam. Lalu, kenapa kamu begitu banyak alasan untuk tidak menulis? *ngomong di depan cermin*

Hafiuh *tarif napas sejenak*, kalau dibilang sibuk ya seperti kalimat yang ada di paragraf pertama, itu bukan sebuah alasan untuk berhenti menulis. Karena sebenarnya, saya tidak berhenti menulis meskipun hanya satu atau dua kalimat dan itu pun di jejaring sosial atau di lembaran-lembaran kertas yang tak beraturan. Yang pasti, mimpi saya melihat buku saya sendiri mejeng di toko buku tak akan surut begitu saja. Kalau ibarat pepatah Jawa mah katanya "alon alon asal kelakon" - "biar lambat asal selamat". Ya tapi jangan terlalu alon terus jalan di tempat ya hehe, inget aja tulisan Teman dan Sang Kura-kura ^^

Jadi ocehan kali ini sedikitnya adalah *curcol* saya dari hati atau malah kebanyakan? Haha. Tetep semangat buat kalian yang mempunyai mimpi besar, mungkin lebih besar dari mimpi saya. Setidaknya, teruslah melangkah meskipun hanya satu langkah dalam satu harinya daripada tidak melangkah sedikit pun dan hanya meringkuk dalam kursi kemalasan :D

Have a nice day :)

Wednesday, August 29, 2012

Satu Mulut Berjuta Peristiwa

Perbincangan dua orang yang saling berteman di depan halaman rumah si A.

A: Eh, kenapa ya tangan ada dua, kaki ada dua, mata ada dua, telinga ada dua, sedangkan mulut cuman ada satu? Hidung saja yang cuman ada satu tetep punya dua lubang.

B: Hahaha (temannya tertawa saat si A bertanya)

A: Kenapa kamu tertawa?

B: Ga kebayang aja kalau mulut ada dua kaya anggota tubuh lainnya. Satu mulut saja kamu bisa menyakiti berpuluh-puluh orang atau mungkin lebih banyak lagi. Satu mulut saja, beribu kebohongan yang dikeluarkan. Apalagi dua, ga abis pikir deh.

Setelah si B menjawab pertanyaan si A, ia terdiam sejenak.


B: Mata ada dua tetapi tidak pernah ia berbohong apa yang dilihatnya. Jika yang dilihatnya indah ia pasti akan terus memandangnya tapi jika mengerikan atau mungkin hal-hal yang tidak indah ia pasti memejamkan matanya. Lalu, telinga, meskipun ia berpura-pura tidak ingin mendengar hal-hal yang buruk tetapi ia tetap mendengarkannya dan ia akan secara refleks ditutup jika ia mendengarkan suara-suara keras atau mengerikan. Hidung, jika bau menyengat tercium olehnya secara refleks tangan akan menutup hidung karena ia jujur jika bau ya bau, tidak berpura-pura wangi. 



A: Lalu bagaimana dengan tangan dan kaki? Terkadang mereka pun seringkali menyakiti banyak orang, seperti misalnya memukul atau menendang.



B: Iya memang mereka terkadang sering menyakiti banyak orang jika digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Tapi, memangnya jika ia memukul atau menendang seseorang apakah ia pun tidak merasakan sakit? Lalu, tangan akan dengan refleksnya mengambil barang yang akan jatuh atau menarik seseorang yang hendak melakukan hal-hal yang buruk. Demikian dengan kaki, ia akan refleks berlari untuk menolong seseorang saat misalnya melihat seseorang yang hendak ditabrak.


A: Hmmm...

B: Nah, sekarang jika mulut ada dua. Misalnya, jika matamu melihat hal yang tidak baik padahal kamu bisa melaporkannya kepada yang berwajib, satu mulut bisa saja membungkam kata-katamu karena tidak ingin terlibat dalam kasus tersebut. Atau, jika seseorang melakukan kebaikan, mulut malah mengatakan kepada orang-orang hal yang sebaliknya hanya karena sirik padanya. Mulut tidak hanya dapat menyakiti orang-orang yang tidak disukai tetapi bisa jadi menyakiti orang-orang terdekat bahkan orang-orang yang disayang.  Ga kebayang kan  kalau ada dua, nanti mulut yang satu ngomong apa, yang satu lagi ngomong apa. Kalau sudah kejadian seperti itu yang mana yang bisa dipercaya? Tuhan tau pasti apa manfaat dan dampaknya dari semua yang diciptakan oleh-Nya. Jadi, syukurilah apa yang kamu miliki sekarang, jangan berandai-andai kamu ingin memiliki dua mulut.

Semoga percakapan tadi dapat menginspirasi para pembaca ya. Have a nice day ^^

Saturday, August 25, 2012

Enam Bulan Bertualang

Enam bulan sudah saya bertualang, mencoba masuk ke dunia baru yang pada akhirnya saya pun menyerah. Mungkin mental saya bisa dibilang lemah, tidak sekuat teman-teman seperjuangan saya yang hingga saat ini masih tetap bertualang. Saya yang bukan lulusan jurnalistik namun entah kenapa saya mencicipi dunia jurnalistik dalam enam bulan lamanya. Dan saat itu pula mata saya terbuka lebar.

Selama enam bulan itu saya bertualang, bertemu dengan berbagai macam karakter dari setiap orang, mendengarkan keluh kesah rakyat kecil yang suaranya hampir tak terdengar atau lebih tepatnya tak didengar. Melihat sisi lain dari para artis yang tampak selalu terbalut kemewahan, berbincang-bincang dengan para petinggi yang sebagian besar pandai berkilah dan memasang topeng. Menikmati tawa renyah anak-anak kecil hingga mendengarkan dongeng dari para sepuh yang selalu senang berbagi pengalaman kepada yang lebih muda. Enam bulan saya menikmati segarnya udara pagi hari hingga pekatnya malam, melihat pemandangan yang indah dengan rimbunnya pepohonan hingga fatamorgana akibat teriknya matahari, merasakan lancarnya jalanan hingga padatanya jalanan yang membuat saya harus berhadapan dengan kendaraan-kendaraan besar yang berseliweran.

Ya, dalam enam bulan saya banyak menemukan cinta, kasih sayang, keprihatinan, benci, marah, kebohongan, kesombongan, ketamakan dan banyak lagi sifat manusia lainnya yang tak ada habisnya. Dalam enam bulan saya belajar menghargai waktu, membaginya untuk orang-orang terkasih dan untuk mengemban tanggung jawab. Mencoba mengorganisir perasaan saat saya harus melakukan tugas sedangkan orang lain tertawa lepas menikmati liburan bersama keluarga.

Tak ada kata penyesalan ketika saya mengatakan menyerah. Tak sedikit pun ada kata penyesalan untuk enam bulan itu karena pada kenyataannya saya menikmati enam bulan itu, saya menyenanginya, dan mungkin saya mencintainya. Hanya, saya belum terlalu kuat memikul tanggung jawab tersebut, saya belum terlalu kuat untuk memantapkan langkah kaki saya dalam petualangan itu. Tapi, dalam enam bulan itu saya bertemu dengan orang-orang hebat yang kini menjadi guru saya dalam melanjutkan petualangan baru saya, yaitu sebagai periset :)