Thursday, April 6, 2017

Valakor dan Respek


Valakor. Apa itu valakor? Kok rasanya akhir-akhir ini lagi rame banget yang bahas dan sebut-sebut istilah tersebut. Awalnya saya juga enggak tahu apa itu valakor, saya pikir pelesetan dari si hantu Valak yang ada di film The Conjuring 2. Ternyata eh ternyata setelah kepo sana sini, valakor yang lagi booming sekarang tuh pelesetan dari kata pelakor yang merupakan singkatan dari perebut laki orang. Waduh, jauh banget ya sama persepsi awal saya hahaha. Zaman sekarang mah ya selain banyak baca buku, harus juga banyak baca informasi-informasi terhangat yang ada di internet biar enggak kudet alias kurang update ^_^

Ngomong-ngomong soal valakor, di media sosial dan beberapa berita daring lagi heboh tuh soal valakor pasangan dokter. Cung, siapa yang di sini balanemo alias pengikutnya akun gosip yang ngehit sejagat Instagram? hehe. Kalau yang suka kepoin akun gosip itu, pasti udah tahu lah ya soal berita valakor ini. Yang enggak suka kepoin atau bukan pengikut akun gosip tersebut aja, gara-gara berita valakor ini jadi penasaran dan ikut-ikutan kepo nih, termasuk saya, hehe ^^v

Di postingan ini, saya enggak akan bahas ceritanya secara terperinci ya, jadi buat yang penasaran dan belum tahu soal berita tersebut dan pengin tahu secara detil, monggo di-search aja di mbah Google. Intinya secara garis besar, ada seorang istri yang sedang hamil dan umur pernikahannya masih seumur jagung diselingkuhi sama suaminya dan si suaminya konon lebih memilih selingkuhannya, bahkan katanya udah berencana untuk menikah. Coba bayangkan, nikah baru beberapa bulan, lagi hamil, terus diselingkuhin! Hayati sakit hati, bang.

Hampir sebagian besar respon soal berita ini memihak si istri yang sedang hamil tersebut dan menghujat si suami serta selingkuhannya alias si valakor itu. Terutama para kaum hawa, unch pada emosi jiwa komen-komennya juga. Kalau kata akun gosip yang ngehit sejagat Instagram itu mah, liat cerita mba dokter dan suami serta valakor ini, "mari kita gelar tiker sambil nyemil batako" alias bakalan panjang ceritanya (gosipnya).

Saya sebagai perempuan dan seorang istri serta seorang ibu satu anak, ikutan kesel dan emosi juga pas baca berita tersebut. Namun, apalah saya ini yang enggak kenal sama si mba dokter tersebut dan enggak tahu kehidupan serta cerita aslinya bagaimana. Bukan hak saya juga untuk mencampuri urusan mereka ataupun memihak salah satu di antara ketiganya. Saya sebagai pembaca informasi yang disebarkan di dunia maya ini hanya bisa mengambil pesan dari informasi tersebut. Yang positifnya saya ambil, yang negatifnya saya buang. 

Sebenarnya kasus dan fenomena seperti mba dokter itu bukanlah hal yang aneh. Cuman mungkin kasus mba dokter ini begitu viral karena diekspos di media sosial yang di-share juga sama akun gosip tersebut. Saya juga punya loh teman yang mengalami kejadian seperti si mba dokter yang diselingkuhi itu, kondisinya pun sama ditinggalkan saat ia sedang hamil. Enggak hanya itu, saya juga punya teman yang menjadi valakor seperti selingkuhan suaminya mba dokter itu. 

Kalau dari sisi yang diselingkuhi, jelas ia merasa marah dan kesal pada pasangannya serta selingkuhan si pasangannya. Sementara dari sisi si valakor, yang pernah saya dengar dari curhatan teman saya itu (sebut saja namanya Anggun), dalam hati kecilnya sebenarnya dia merasa bersalah tapi karena dibutakan oleh cinta dan janji-janji manis dari si cowoknya, dia merasa enggak rela kalau harus kehilangannya. 

Satu hal yang saya ingat dari curhatan Anggun, katanya awalnya dia enggak ada niatan untuk merebut suami orang. Dia enggak akan mulai jatuh hati kalau si cowoknya tidak memberi perhatian lebih atau curhat soal rumah tangganya. Dan biasanya yang dikeluhkan atau dicurhatkan si cowok soal rumah tangganya bermula karena hilangnya atau menurunya respek di antara pasangan suami istri.

Hal ini nih yang saya garis bawahi, RESPEK. Pernikahan saya dengan suami memang baru 2 tahun 6 bulan, ah masih cupu lah, pengalamannya juga masih cetek, tapi saya harus terus belajar soal rumah tangga untuk kebaikan rumah tangga saya. Bukan hanya melalui buku-buku soal rumah tangga, melainkan dari kehidupan langsung pasangan suami istri yang ada di sekitar saya, termasuk kedua orang tua saya. Siapa sih yang mau rumah tangganya hancur? Enggak ada! Semua pasangan, menginginkan bisa menjalankan rumah tangga yang harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah.

Ketika saya mendengar curhatan dari Anggun soal dia merebut suami orang lain, tentu saja saya marah. Mungkin dia juga bosan mendengar saya menasehatinya berkali-kali bahkan berpuluh-puluh kali. Namun, mau bagaimana lagi, yang menjalankan hidupnya kan dia bukan saya, mau saya berkoar-koar sampai mulut saya berbusa juga kalau dalam hatinya merasa perbuatannya itu benar dan tidak melukai siapapun, saya bisa apa?

Cuman satu hal yang saya ambil dari curhatannya, jika tidak ingin rumah tangga saya diganggu valakor, saya dan pasangan memang harus bisa menjaga respek kami agar tidak hilang atau menurun. Karena tanpa disadari, respek terhadap pasangan kerap dikesampingkan. Yang selalu diingat agar rumah tangga harmonis hanyalah kepercayaan, kesetiaan dan kejujuran, padahal respek juga diperlukan (itu saya ya sebagai pasangan baru, mungkin yang sudah berpenglaman mah sudah menerapkan semuanya hehe).

Kalau berdasarkan salah satu artikel di laman Vemale.com  dituliskan, Henry Manampiring dalam bukunya The Alpha Girl’s Guide menuliskan bahwa rahasia suami istri yang harmonis itu sebenarnya bisa disederhanakan menjadi dua kata: love dan respect. “Istri harus mendapatkan dan merasakan ‘love’, sementara suami mendapatkan dan merasakan ‘respect’. Hal ini tidak berarti seolah-olah istri tidak perlu mendapatkan respek dan suami tidak perlu mendapatkan cinta, tetapi bahwa kedua gender memiliki prioritas yang berbeda,” tulisnya.

Seperti yang pernah saya bahas juga dengan suami saya, menurutnya buat seorang suami mah simple, dia hanya ingin dihargai, misalnya dengan secangkir kopi atau teh hangat sepulang kerja yang disiapkan oleh sang istri sepulang kerja, bukannya disambut oleh muka murung atau omelan yang tak henti-hentinya diucapkan. Kata pak suami, laki-laki itu kalau abis capek kerja seharian, pas pulang jangan langsung ditanya ini itu atau diomelin, kasih waktu sebentar untuk dia istirahat, menarik napas sejenak, lalu meminum kopi atau teh hangat buatan istrinya. 

Lain halnya dengan perempuan yang perlu mengeluarkan 20.000 kata per harinya. Jika belum menghabiskan jatah kata per harinya tersebut, perempuan akan terus berbicara. Perempuan justru lebih suka langsung ditanya oleh pasangan, misalnya seperti "Kenapa, bu, kok pulang kerja wajahnya murung gitu? Ada apa di kantor?". Kalau laki-laki pulang kerja langsung ditanya seperti itu bukannya mau menjawab, yang ada kesel kalau kata pak suami mah, hehe. Terlihat sepele sih, tapi kalau dibiarkan, lama-lama respek terhadap pasangan bisa menurun dan mengganggu keharmonisan rumah tangga.

Intinya sih, suami dan istri harus saling melengkapi dan menguatkan. Jika salah satu ada yang salah, segeralah berintrospeksi diri, jangan saling menyalahkan. Coba untuk selalu respek pada pasangan.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment