Sunday, January 8, 2017

#30haribercerita - Nyaman



Katanya ingin anak-anaknya menjadi anak yang soleh.
Katanya ingin anak-anaknya menjadi anak yang rajin solat.
Katanya ingin anak-anaknya mencintai dan memakmurkan masjid.

Lantas kenapa masih banyak yang takut membawa anak-anaknya ke masjid karena takut mereka mengganggu jamaah lainnya?
Lantas kenapa masih banyak yang menolak anak-anaknya ketika mereka merengek ingin ikut ke masjid, karena takut merepotkan?
Lantas kenapa masih banyak orang-orang tua yang tak ramah bahkan sampai membentak anak-anak yang sedang senang "bermain" di dalam masjid?

Namanya anak-anak ya ada masanya senang bermain. Tapi jangan salah loh, di tengah "bermain"nya itu, mereka adalah peniru ulung. Selain itu, mereka juga sangat peka pada suasana sebuah tempat. Kalau ingin anak-anakmu cinta dan memakmurkan masjid, ya ajak ke masjid, toh meski mereka bermain lari sana-sini, diam-diam mereka menirukan gerakan-gerakan solat. Justru dengan dibentak mereka malah trauma dan mengganggap masjid adalah tempat yang tak ramah untuk anak-anak.
.
.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pada waktu mulai shalat, aku bermakud untuk memanjangkannya. Tetapi, setelah mendengar tangis seorang bayi, aku memendekkannya. Karena, aku mengetahui betapa perasaan hati ibunya mendengar tangis bayi itu.” (HR. Bukhari). Rasulullah saja telah memberikan contoh konkret bagaimana semestinya umat ini mengkondisikan masjid sedemikian baik bagi anak-anak.
.
.
“Rasulullah SAW shalat bersama sahabatnya, lalu beliau sujud. Ketika itu datanglah Hasan yang tertarik melihat Rasulullah SAW yang mulia saat beliau sedang sujud. Rasul memanjangkan sujudnya agar tidak menyakiti Hasan. Usai shalat, beliau meminta maaf kepada jama’ah shalat dan bersabda, “Anakku tadi naik ke punggungku lalu aku khawatir bila aku bangun dan menyakitinya. Maka aku menungu sampai ia turun.” (HR. An-Nasa’i)
.
.
Jika dalam pelaksanaan shalat berjama'ah saja, Rasulullah sedemikian peka terhadap kondisi anak-anak, atas dasar apa orang-orang tua kini membentak anak-anak yang sedang belajar mencintai masjid dan membuat masjid menjadi tempat yang tidak menyenangkan?



*karena pas upload tulisan ini di Instagram ada beberapa yang kasih masukan di kolom komentar, jadi sama Moy di sini ditambahin sedikit tulisan biar ga salah paham.
Moy ga ada maksud lain menulis soal ini, bukan juga menyinggung seseorang atau lainnya. Hal ini diambil dari beberapa pengalaman saya sebagai seorang Ibu yang selalu membawa anaknya ke masjid (dan dia masih berusia 17 bulan).
Intinya sih, kalau bawa anak-anak memang harus didampingi sama orangtuanya. Memang tidak sepenuhnya orang-orang tua yang salah terkait soal ini, tapi yang saya fokuskan di sini sih mereka yang suka membentak anak-anak sehingga anak-anak menjadi trauma untuk pergi ke masjid. Cuman karena karakter di Instagram terbatas, jadi saya tidak bisa menjelaskannya secara rinci, saya hanya menulis apa yang saya lihat dan yang saya alami saja.
Membawa anak-anak ke masjid orang tua si anak memang harus siap mengawasinya agar anak tidak bertindak berlebihan atau sampai berteriak-teriak mengganggu jamaah lainnya. Orang tua si anak juga harus siap ketika ada yang menegur jika anak kita terlalu berlebihan di masjid, jangan tersinggung, tapi tugas kita sebagai orangtua lah yang harus menasehati si anak ketika ia berbuat salah.
Intinya sih Moy nulis ini cuman pengin anak-anak tidak trauma ke pergi ke majid karena ada perlakuan tak enak dari orang dewasa. Moy cuman pengin anak-anak mulai belajar mencintai dan memakmurkan masjid. Dan Moy rasa jika ada anak-anak yang berkelakuan luar biasa, bahkan sampai mengganggu ibadah solat, sebaiknya menasehati si anak dengan perlahan bukan dengan membentak atau silahkan langsung tegur pada orang tuanya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment